Pembeli minyak kelapa sawit Asia tertinggal dalam gerakan lingkungan - survei

by Michael Taylor | @MickSTaylor | Thomson Reuters Foundation
Friday, 17 January 2020 10:06 GMT

FILE FOTO: Seorang perempuan mengamati minyak goreng di sebuah supermarket di Jakarta, 9 Agustus 2010. REUTERS/Crack Palinggi

Image Caption and Rights Information

Penilaian WWF menunjukkan seperempat dari perusahaan konsumen minyak sawit yang sebagian besar berbasis di Asia, belum berkomitmen untuk membeli minyak sawit berkelanjutan

Oleh Michael Taylor

KUALA LUMPUR, 17 Januari (Thomson Reuters Foundation) – Survei atas janji pembeli minyak sawit berskala besar terkait pembatasan penebangan hutan menunjukkan bahwa seperempat dari pembeli tersebut, yang sebagian besar berbasis di Asia, belum berkomitmen untuk membeli pasokan dari sumber yang berkelanjutan, ungkap kelompok lingkungan World Wide Fund for Nature (WWF).

Penilaian yang telah berlangsung selama satu dekade ini menyurvei 173 pembeli minyak sayur terbesar termasuk pengecer, perusahaan barang konsumsi dan produsen makanan di Amerika Serikat, Kanada, Eropa, Australia, Singapura, Indonesia dan Malaysia.

Masing-masing perusahaan dinilai berdasarkan komitmen mereka antara lain untuk membeli minyak sawit dari sumber berkelanjutan dan penerapan kebijakan anti-penebangan hutan di rantai pasok mereka.

Perusahaan permen asal Italia Ferrero yang memproduksi selai cokelat Nutella berada di posisi paling atas, sementara merek-merek Asia—yang disurvei untuk pertama kalinya—tertinggal jauh. Banyak di antaranya bahkan menolak berpartisipasi dalam survei tersebut.

“Perusahaan-perusahaan dengan penilaian terbaik melakukan lebih dari sekadar membeli minyak sawit dari sumber bersertifikat keberlanjutan,” ujar Elizabeth Clarke, kepala divisi kelapa sawit WWF di Singapura.

“Meski demikian, seperempat dari perusahaan-perusahaan [yang disurvei] tersebut bahkan tidak memiliki komitmen untuk melakukan tindakan yang paling mendasar. Sangat mencemaskan melihat perusahaan-perusahaan yang lambat ini makin jauh tertinggal,” katanya kepada Thomson Reuters Foundation.

Minyak kelapa sawit adalah minyak pangan yang paling banyak digunakan di dunia. Minyak ini terdapat dalam segala macam produk mulai dari margarin hingga sabun. Namun produksinya menjadi sorotan aktivis lingkungan dan konsumen karena diyakini berkontribusi pada hilangnya hutan, kebakaran dan eksploitasi pekerja.

Tekanan dari investor, pemerintah, konsumen maupun kelompok lingkungan agar perusahaan membeli minyak sawit berkelanjutan cenderung kurang di Asia dibandingkan kawasan seperti Eropa, Amerika Serikat dan Australia selama satu dekade terakhir, ujar Clarke.

“Sudah waktunya ini berubah karena lebih dari setengah minyak sawit dunia dikonsumsi di Asia,” katanya.

Tujuan melibatkan perusahaan-perusahaan Asia dalam survei kali ini adalah untuk menyoroti masalah tersebut, tambahnya.

 

'INGKAR JANJI'

Perusahaan-perusahaan produk rumah tangga dunia yang membeli dan menggunakan minyak sawit bersepakat pada 2010 untuk memastikan bahwa dalam satu dekade pasokan mereka tidak akan lagi mengakibatkan penebangan hutan, tetapi banyak di antaranya masih kesulitan memenuhi janji tersebut.

Dari seluruh perusahaan yang dihubungi untuk kebutuhan survei WWF tersebut, hanya 132 yang bersedia bekerja sama. Hasil survei menunjukkan bahwa 117 perusahaan telah secara terbuka menyatakan komitmen untuk hanya membeli minyak sawit dengan sertifikasi keberlanjutan pada 2020 – tetapi hanya 78 yang berhasil mencapai target tersebut.

Sepuluh tahun terakhir adalah tahun-tahun “ingkar janji,” kata Clarke. “Jika perusahaan tidak transparan atau tidak secara formal dan terbuka menyatakan komitmen mereka terhadap upaya menuju keberlanjutan, maka tidak akan ada pertanggungjawaban,” Clarke menambahkan.

Penilaian WWF di bidang kelapa sawit, yang kini sudah memasuki edisi kelima dengan publikasi terakhir pada 2016, juga menanyakan kepada perusahaan tindakan apa yang telah mereka ambil untuk melindungi dan mendukung pemilik lahan kecil, komunitas dan keragaman hayati di lapangan.

Hasilnya, seperempat perusahaan yang disurvei menyatakan telah menanamkan modal dalam inisiatif di wilayah yang berisiko terkena pengembangan sawit tak berkelanjutan.

Di Malaysia, negara produsen minyak sawit terbesar kedua setelah Indonesia, sebagian besar perusahaan menolak berpartisipasi dalam survei ini.

“Perusahaan-perusahaan di Malaysia bisa jadi motor penggerak… tapi mereka harus berani mengambil sikap,” tutup Benjamin Loh, manajer divisi kelapa sawit berkelanjutan di WWF-Malaysia.

(Liputan oleh Michael Taylor @MickSTaylor; disunting Megan Rowling. Dalam mengutip artikel ini, harap cantumkan Thomson Reuters Foundation, divisi nirlaba Thomson Reuters, yang mengulas berita kemanusiaan, perempuan, dan hak-hak LGBT+, perdagangan manusia, hak cipta, dan perubahan iklim. Kunjungi kami di: http://news.trust.org)

Standar Kami: The Thomson Reuters Trust Principles.

Our Standards: The Thomson Reuters Trust Principles.