Peran hutan hujan sebagai pelindung iklim turun drastis akibat pemanasan global

by Michael Taylor | @MickSTaylor | Thomson Reuters Foundation
Wednesday, 4 March 2020 16:00 GMT

ARSIP FOTO: Pemandangan Taman Nasional Mont Peko di kawasan Duekoue, sebelah barat Pantai Gading, 2 Agustus, 2016. REUTERS/Luc Gnago

Image Caption and Rights Information

Hutan hujan Amazon dapat berubah dari penyerap menjadi penghasil karbon mulai pertengahan 2030an.

Oleh Michael Taylor

KUALA LUMPUR, 4 Maret (Thomson Reuters Foundation) — Jumlah karbon dioksida pemanas suhu bumi yang dapat terserap dari atmosfer dan tersimpan dalam hutan tropis menurun seiring dengan pemanasan iklim global, tutur para peneliti Rabu lalu.

 

Peringatan tersebut dijelaskan dalam penelitian yang menunjukkan bahwa hutan hujan dapat beralih dari penyerap karbon menjadi sumber emisi lebih cepat dari perkiraan awal para ilmuwan—perubahan tersebut dapat terjadi di Amazon mulai pertengahan 2030an. 

 

“Penyebabnya yaitu dampak perubahan iklim berupa tekanan suhu tinggi dan kekeringan yang melanda hutan utuh,” kata Simon Lewis, penulis senior dari riset yang dipublikasikan dalam jurnal Nature tersebut. Lewis juga merupakan guru besar Universitas Leeds di Inggris. 

 

Bukti bahwa hutan mulai berubah peran dari penyerap karbon menjadi sumber karbon ini “sangat mengkhawatirkan,” Lewis mengatakan pada Thomson Reuters Foundation.

 

“Sejauh ini, manusia sangat beruntung karena hutan telah menyerap polusi yang kita hasilkan. Namun ini tidak akan berlangsung lama lagi,” katanya.

 

Hutan hujan yang terbentang luas, termasuk yang berada di Indonesia, Brazil dan Republik Demokratik Kongo membantu mengatur curah hujan, mencegah banjir, melindungi keanekaragaman hayati dan membatasi perubahan iklim.

 

Namun penelitian 30 tahun yang dipimpin oleh Universitas Leeds dan melibatkan hampir 100 institusi tersebut menunjukkan bahwa penyerapan karbon oleh “hutan tropis utuh” mencapai puncaknya pada 1990an dan turun menjadi sepertiganya pada 2010an.

 

Hutan utuh adalah bentangan kawasan hutan tak terputus, tanpa tanda-tanda kegiatan manusia seperti pertanian atau penebangan hutan. Bentangan hutan utuh ini merupakan bagian dari sekitar 5,5 miliar hektar hutan yang terdapat di seluruh dunia.

 

Pepohonan menyerap karbon dioksida—yaitu gas rumah kaca utama yang menaikkan suhu iklim di bumi—dari udara, kemudian menyimpan karbon tersebut. Karbon akan terlepas kembali apabila pepohonan tersebut ditebang, dibakar atau membusuk.

 

Hutan tropis adalah gudang penyimpanan raksasa yang dapat mengikat 250 miliar ton karbon dalam pepohonannya saja—atau setara dengan 90 tahun emisi bahan bakar fosil dalam tingkat seperti sekarang.

 

Berbagai model ilmiah umumnya memperkirakan bahwa peran hutan tropis sebagai penyimpan karbon akan berlanjut selama puluhan tahun.

 

Tetapi kemampuan hutan mengimbangi emisi buatan manusia ternyata menurun lebih cepat dari yang diperkirakan, tutur Lewis.

 

“Setelah bertahun-tahun bekerja di pedalaman hutan hujan Kongo dan Amazon, kami mendapati bahwa salah satu dampak paling mengkhawatirkan dari perubahan iklim telah mulai terjadi,” katanya. “Ini terjadi puluhan tahun lebih awal daripada yang diperkirakan, bahkan oleh model [perkiraan] iklim yang paling pesimistis sekalipun.”

 

Cara untuk menjaga hutan tropis sebagai penyerap karbon “adalah dengan menstabilkan iklim” dengan mengurangi emisi, terutama dari penggunaan bahan bakar fosil, hingga “mencapai total nol,” lanjut Lewis.

 

KEKERINGAN MEMATIKAN

 

Para peneliti yang mengikuti pertumbuhan dan kematian 300.000 pohon di Afrika dan Amazon menemukan bahwa hutan hujan tropis yang belum terjamah manusia mulai mengalami proses perubahan dari penyerap menjadi sumber karbon, terutama akibat pembebasan karbon saat pepohonan mati.

 

“Karbon dioksida tinggi mendorong pertumbuhan pohon, tetapi setiap tahun efek ini dihadapkan dengan makin besarnya dampak negatif suhu tinggi dan kekeringan yang memperlambat pertumbuhan dan dapat mematikan pepohonan,” tutur penulis senior Wannes Hubau dari Royal Museum for Central Africa di Belgia.

 

“Model yang kami buat berdasarkan faktor-faktor ini menunjukkan penurunan jangka panjang dalam penyimpanan karbon di Afrika, sementara penyerapan di Amazon akan menjadi semakin lemah. Kami perkirakan [hutan utuh] akan menjadi sumber karbon pada pertengahan 2030an,” lanjut Hubau dalam sebuah pernyataan.

 

Pada 1990an, hutan tropis utuh menarik sekitar 46 miliar ton karbon dioksida dari atmosfer. Jumlah ini menurun menjadi sekitar 25 miliar ton pada 2010an, penelitian tersebut mengungkapkan.

 

Kapasitas penyimpanan yang hilang sebesar 21 miliar ton ini setara dengan emisi bahan bakar fosil selama sepuluh tahun yang dihasilkan oleh gabungan Inggris, Jerman, Prancis dan Kanada, riset tersebut menambahkan.

 

Hutan tropis utuh menyerap 17% emisi karbon dioksida buatan manusia pada dekade 1990an, tetapi angka tersebut menurun menjadi 6% pada 2010an.

 

Penurunan tersebut diakibatkan susutnya luas hutan sebesar 19% yang mengakibatkan penurunan sepertiga jumlah karbon yang dapat terserap, sementara emisi karbon global melonjak 46%, menurut riset tersebut.

 

Kawasan tropis kehilangan 12 juta hektar tutupan hutan pada 2018, termasuk 3,6 juta hektar hutan hujan tua—atau setara luas negara Belgia. Menurut layanan pengawasan hutan Global Forest Watch, penurunan tersebut sebagian besar disebabkan oleh kebakaran hutan, pembukaan lahan pertanian serta pertambangan.

 

(Liputan oleh Michael Taylor @MickSTaylor; disunting oleh Megan Rowling. Dalam mengutip, mohon cantumkan Thomson Reuters Foundation, divisi nirlaba Thomson Reuters yang mengangkat kehidupan orang-orang di berbagai penjuru dunia yang berjuang untuk hidup bebas dan adil. Kunjungi kami di: http://news.trust.org)

 

Standar Kami: The Thomson Reuters Trust Principles.

Our Standards: The Thomson Reuters Trust Principles.