Coronavirus akan perburuk masalah kabut asap di Asia Tenggara?

by Michael Taylor | @MickSTaylor | Thomson Reuters Foundation
Wednesday, 22 April 2020 00:01 GMT

Asap menyelubungi hutan saat terjadi kebakaran di Kabupaten Kapuas, tak jauh dari Palangkaraya di Provinsi Kalimantan Tengah, Indonesia, 30 September 2019. REUTERS/Willy Kurniawan

Image Caption and Rights Information

Petani di Indonesia membakar ribuan hektar lahan setiap tahunnya dan mengakibatkan kabut asap berskala besar dengan kerugian ekonomi miliaran dollar

Oleh Michael Taylor

 

KUALA LUMPUR, 22 April (Thomson Reuters Foundation) – Lemahnya penerapan pembatasan pergerakan untuk membendung infeksi COVID-19 di wilayah pedesaan di Indonesia, ditambah preferensi petani untuk membuka lahan dengan biaya murah, dapat mengakibatkan terulangnya kembali kebakaran hutan dan kabut asap yang sempat mencekik Asia Tenggara tahun lalu, tutur penggiat lingkungan.

 

Musim kabut asap tahunan, mulai sekitar Juni hingga Oktober, menyebabkan bandara dan sekolah ditutup pada 2019. Dibakarnya lahan yang diperkirakan seluas 16.000 kilometer persegi membuat Indonesia harus menanggung kerugian ekonomi sebesar 5,2 miliar dollar AS, menurut Bank Dunia.

 

Selain itu, lebih dari 900.000 orang juga dilaporkan menderita penyakit saluran pernapasan.

 

Seperti banyak negara lain, tahun ini Indonesia juga berjuang melawan virus corona baru, tetapi pemerintah sudah menerima kritikan atas respon yang lamban dan rendahnya jumlah penduduk yang menjalani tes COVID-19. Pemerintah memperkirakan infeksi ini akan mencapai puncaknya, dengan angka 100.000 kasus Juni nanti.

 

“Kekhawatiran saya adalah apabila jaga jarak sosial dan karantina wilayah tidak dimonitor dan diterapkan dengan ketat di wilayah pedesaan,” tutur Helena Varkkey, dosen University of Malaya di Kuala Lumpur.

 

Dikerahkannya aparat pemerintah untuk menegakkan aturan pembatasan berskala besar mengalihkan banyak personel dari tugas mengawasi hutan dan petani untuk mencegah pembukaan lahan ilegal, Varkkey mengatakan kepada Thomson Reuters Foundation.

 

Petani membakar ribuan hektar hutan dan lahan gambut setiap tahunnya untuk dialihfungsikan sebagai perkebunan kelapa sawit dan ekspansi pertanian lainnya, sehingga menimbulkan kabut asap yang parah di sebagian besar langit kawasan Asia Tenggara.

 

Kebakaran hutan tahun lalu, yang memicu sengketa diplomatik antara Indonesia dan Malaysia, adalah yang terparah sejak 2015.

 

Varkkey, yang telah meneliti masalah kabut asap selama lebih dari 15 tahun, mengatakan bahwa meski pembatasan mobilitas terkait virus corona telah diterapkan, kebakaran hutan tahunan di provinsi Chiang Rai, Thailand utara, dan sekitarnya masih terjadi bulan lalu.

 

Di selatan Asia Tenggara, tradisi membakar lahan musiman dimulai menjelang penghujung tahun, “tetapi jika melihat situasi di Thailand sebagai patokan, saya tidak optimis COVID-19 akan berdampak positif pada pengurangan kabut asap,” dia menambahkan.

 

ANCAMAN GANDA

 

Sebab pembatasan berskala besar akibat virus corona mengakibatkan banyak restoran ditutup, para analis memperkirakan harga dan kebutuhan minyak sawit—yang digunakan dalam segala jenis produk mulai dari mie instan hingga kue-kue—akan anjlok.

 

Harga minyak sawit sudah turun sekitar 30% sejak Januari.

 

Meski demikian, perkebunan sawit di Indonesia dan Malaysia, dua negara penghasil terbesar komoditas ini, masih tetap beroperasi di tengah krisis kesehatan yang tengah terjadi.

 

“Jika industri terus menempatkan kepentingan produksi di atas ketahanan lingkungan, krisis kebarakan mungkin akan sama buruknya atau bahkan lebih parah daripada 2019,” juru kampanye kehutanan Greenpeace Indonesia Rusmadya Maharuddin memperingatkan.

 

Jatuhnya harga minyak sawit—jika berlangsung dalam jangka pendek—tidak akan banyak berpengaruh terhadap sektor ini. Kekhawatiran yang muncul adalah jika petani sawit terus berekspansi, mereka akan lebih memilih membuka lahan dengan cara yang murah, termasuk dengan membakar, untuk memangkas biaya.

 

Di sisi lain, pemerintah Indonesia tengah mengalihkan anggaran untuk menangani wabah virus corona yang saat ini sangat membebani sistem kesehatan nasional. Keadaan akan semakin parah jika musim kabut asap 2020 ternyata sangat buruk.

 

Awal bulan ini, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan telah memangkas anggaran tahun 2020 sebesar 101 juta dollar AS, penurunan 17% dari rencana belanja tahun ini, sebagaimana dilaporkan media tanah air.

 

Indonesia, negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia dengan populasi lebih dari 260 juta, telah mencatat lebih dari 7000 infeksi COVID-19 sejauh ini.

 

Angka tersebut adalah yang kedua terbesar di Asia Tenggara setelah Singapura , meskipun beberapa perkiraan menyatakan bahwa angka infeksi yang sesungguhnya jauh lebih tinggi. Angka kematian akibat COVID-19 di Indonesia sebesar sekitar 600 adalah yang tertinggi di Asia Timur setelah China.

 

“Kita tengah menghadapi krisis kesehatan global akibat virus yang menyerang paru-paru manusia,” Maharuddin mengatakan.

 

“Perusahaan dan pemerintah memiliki tanggung jawab penting,  yang belum pernah ada sebelumnya, untuk mengambil langkah pencegahan kabut asap yang mematikan akibat kebakaran hutan, karena dapat melipatgandakan ancaman kesehatan bagi jutaan penduduk di kawasan ini,” dia menambahkan.

 

Kementerian lingkungan hidup tidak dapat dihubungi ketika hendak dimintai tanggapan. Lembaga klimatologi Indonesia meramalkan musim kering tidak akan seekstrem pada 2019, yang mungkin dapat membantu mengurangi risiko meluasnya kebakaran.

 

Setelah kebakaran tahun 2015, Presiden Joko Widodo membentuk lembaga untuk memulihkan lebih dari 2 juta hektar lahan gambut yang rusak dan menetapkan moratorium konsesi sawit baru.

 

Tetapi aktivis lingkungan memperingatkan bahwa pemotongan anggaran lingkungan, lambatnya laju pemulihan lahan gambut, dan rancangan undang-undang untuk mengurangi birokrasi dan mendongkrak investasi akan membatasi kemampuan Indonesia dalam menanggulangi kebakaran hutan tahun ini.

 

“Bom waktu ini akan menimbulkan kebakaran hutan berskala besar yang mengakibatkan kabut asap dari rusaknya lahan gambut,” tutur Riko Kurniawan, direktur eksekutif Wahana Lingkungan Indonesia (WALHI) di Riau, provinsi di Sumatra dengan kawasan gambut yang luas.

 

“Tanpa kerja serius dari pemerintah, risiko kebakaran pada 2020 akan tinggi,” imbuh Teguh Surya, direktur eksekutif kelompok lingkungan Madani Sustainability Foundation.

 

(Liputan oleh Michael Taylor di Kuala Lumpur, @MickSTaylor; liputan tambahan oleh Harry Jacques di Denpasar, Indonesia; disunting oleh Megan Rowling. Dalam mengutip harap sebutkan Thomson Reuters Foundation, divisi nirlaba Thomson Reuters yang mengangkat kehidupan orang-orang di berbagai penjuru dunia yang berjuang untuk hidup bebas dan adil. Kunjungi kami di: http://news.trust.org)

Our Standards: The Thomson Reuters Trust Principles.