Pekerja suaka margasatwa dan taman nasional juga jadi korban pandemi

Tuesday, 5 May 2020 12:00 GMT

Sementara wisata alam di seluruh dunia terhenti akibat wabah COVID-19, para pekerja dan masyarakat sekitar berjuang untuk bertahan hidup dan berpotensi menjadi korban jaringan kejahatan

Oleh Harry Jacques dan Nita Bhalla

DENPASAR, Indonesia/NAIROBI, 5 Mei (Thomson Reuters Foundation) – Selama lebih dari dua dekade pekerjaan sehari-hari M. Khairi adalah menjadi pemandu wisata alam, mendampingi iringan wisatawan yang ingin menjelajah hutan lebat di barat Indonesia atau melihat orangutan yang langka.

Tetapi, seperti ribuan pekerja lainnya yang mencari nafkah di 56 lokasi konservasi di Nusantara—semuanya tutup sejak Maret lalu untuk membantu membendung penyebaran virus corona baru—Khairi kini menganggur dan harus berjuang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Cukuplah untuk membeli beras,” tutur lelaki 48 tahun tersebut yang pendapatannya anjlok 75% menjadi 17 dollar AS per minggu.

“Sekitar 500 orang dari kami kehilangan pekerjaan,” Khairi mengatakan kepada Thomson Reuters Foundation saat bicara tentang rekan-rekannya sesama pemandu wisata di Taman Nasional Gunung Leuser di Sumatra.

Menurut perhitungan Johns Hopkins University, terdapat lebih dari 3,5 juta kasus positif dengan angka kematian melampaui 250.000 di seluruh dunia.

Sementara berbagai negara bergerak untuk meredam penyakit saluran pernapasan ini dengan menghentikan perekonomian dan memberlakukan pembatasan pergerakan, taman nasional dan wilayah konservasi turut merasakan dampaknya.

Para penggiat lingkungan memperingatkan bahwa pandemi ini dapat menimbulkan konsekuensi yang luas. Pengaruhnya dirasakan oleh pemandu wisata dan masyarakat sekitar hutan yang pemasukannya bertumpu pada pariwisata alam, hingga upaya konservasi di wilayah terlindung serta satwa liar yang bergantung pada habitat.

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan kedatangan wisatawan mancanegara ke Indonesia turun 64% year-on-year Maret lalu menjadi sekitar 471.000, atau kurang dari angka wisatawan pada Januari, seiring turunnya minat bepergian akibat merebaknya wabah virus corona.

Pemerintah telah memperingatkan bahwa Indonesia dapat kehilangan lebih dari 10 miliar dolar AS pemasukan dari pariwisata tahun ini.

Khairi, ayah empat anak, kini menjadi pekerja kasar dengan upah rendah di perkebunan karet. Dia tidak mendapatkan bantuan keuangan dari pemerintah setempat dan kini tengah cemas memikirkan masa depannya.

“Keadaan sangat buruk bagi kami semua saat ini,” katanya.

 

JARINGAN KRIMINAL

Di Afrika, misalnya di Rwanda, Kenya dan Botswana, pandemi COVID-19 berdampak pada masyarakat yang kehidupannya bergantung pada bisnis wisata satwa liar.

Lebih dari 70 juta turis berkunjung ke Afrika tahun lalu menurut U.N. World Tourism Organization, sebagian besar tertarik mengikuti safari, berkendara di antara satwa liar, atau berburu hewan buas.

Namun dengan ditutupnya bandara dan perbatasan, sebagian besar pemasukan tersebut hilang begitu saja dalam waktu singkat.

Hal tersebut tidak saja mematikan kegiatan ekonomi jutaan keluarga miskin yang tinggal di dalam dan sekitar taman nasional serta wilayah terlindung di Afrika, tetapi juga merugikan konservasi hutan dan upaya anti-perburuan liar.

Sebab minim anggaran dari pemerintah, taman-taman nasional di Afrika sangat bergantung pada pemasukan dari wisatawan agar dapat beroperasi dan menjaga berbagai flora dan fauna yang ada di dalamnya.

“Kurangnya anggaran berarti taman nasional tersebut tidak dapat sering melakukan patroli karena kendaraan butuh bahan bakar dan petugas jagawana juga butuh makan,” kata Kaddu Sebunya, chief executive officer African Wildlife Foundation.

“Tidak adanya turis dan sedikitnya petugas karena keharusan jaga jarak sosial membuat jaringan kriminal makin mudah mengeruk sumber daya alam.”

Sebunya mengatakan kekhawatiran terbesarnya datang dari 20-30 juta penduduk Afrika yang mencari nafkah secara langsung atau tidak langsung dari pariwisata.

Banyak dari mereka terlibat dalam proyek wisata alam atau eco-tourism—mulai dari mengelola penginapan peserta safari hingga memandu tur keliling pedesaan atau berjualan hasil tanam dan kerajinan tangan tradisional—dan tidak ada cara lain untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka selain bertani.

Para penggiat konservasi khawatir dalam keadaan terdesak, masyarakat yang telah puluhan tahun membantu mengendalikan penebangan hutan dan perburuan liar bisa jadi dieksploitasi oleh kelompok kriminal untuk melakukan perburuan liar terhadap satwa terancam atau melakukan pembalakan untuk industri arang, hanya agar bisa bertahan hidup.

“Orang tidak akan hanya tinggal diam sampai mereka kelaparan. Mereka akan bergantung pada sumber daya alam yang ada di sekitarnya. Jika mereka hidup dekat dengan hutan, mereka akan menebang pohon. Jika suaka margasatwa, mereka akan memburu satwanya. Jika sungai, mereka akan menangkap ikan secara berlebihan,” tutur Sebunya.

Pekerja yang diberhentikan dari pekerjaan di penginapan wisatawan atau sebagai penjaga hutan tersebut adalah pekerja yang “mengenal taman-taman [nasional] ini lebih baik dari siapa pun,” maka terdapat risiko mereka menjadi target rekrutmen para pemburu gelap, dia menambahkan.

 

‘MASA GENTING’

Total 46 lembaga bantuan yang berbasis di Inggris dan menjadi bagian dari The Wildlife Trusts juga berhadapan dengan tantangan yang belum pernah dialami sebelumnya akibat pandemi ini.

Upaya konservasi di Inggris—salah satu negara yang sumber daya alamnya paling terkuras—jadi lebih sulit dari sebelumnya selama wabah virus corona.

Sebagian staf dari jaringan tersebut telah dirumahkan, sementara yang masih bekerja menghabiskan waktunya berurusan dengan merebaknya aktivitas ilegal seperti penembakan satwa liar dan pembuangan limbah ilegal.

Pekerjaan vital di bidang konservasi terpaksa dihentikan sehingga menimbulkan ledakan spesies invasif, rusaknya lapangan rumput habitat bunga liar, memperlambat pembebasliaran satwa dan potensi hilangnya spesies seperti tikus dormouse.

“Ini masa-masa genting bagi gerakan kami karena pemasukan dari pengunjung dan penggalangan dana anjlok, sementara tuntutan biaya penanganan ribuan suaka alam justru lebih tinggi dari sebelumnya,” tutur Craig Bennett, CEO The Wildlife Trusts.

Bennett juga menyebutkan dampak negatif lainnya, seperti tertundanya legislasi baru, terhentinya program vaksinasi hewan dan pembersihan pantai, serta meningkatnya pembuangan limbah ilegal, vandalisme dan pencurian di suaka alam, juga penembakan liar burung langka.

Pemerintah di berbagai belahan dunia tengah kewalahan menangani “darurat kemanusiaan” akibat COVID-19, sehingga sulit untuk mendesak dilakukannya investasi di bidang lingkungan saat ini, kata Onno van den Heuvel, global manager Biodiversity Finance Initiative di bawah United Nations Development Programme (UNDP).

Namun konservasi keanekaragaman hayati diperkirakan memperkerjakan 22 juta orang di seluruh dunia, katanya, seraya menambahkan bahwa selama berlangsungnya karantina wilayah, masyarakat bisa membantu dengan urun dana untuk proyek-proyek yang masih berjalan.

Contohnya, saat ini UNDP tengah mempertimbangkan kampanye urun dana spesifik di tiga sampai enam negara untuk mempertahankan pekerjaan penjaga hutan, sambil turut mendukung masyarakat sekitar yang banyak di antara mereka sudah miskin bahkan sebelum pandemi, dia menambahkan.

“Taman nasional ditutup, wisatawan tidak datang, dan sumber penghasilan mereka mengering—mereka benar-benar membutuhkan dana tambahan segera,” pungkas van den Heuvel.

(Liputan oleh Michael Taylor di Kuala Lumpur, Harry Jacques di Denpasar, Indonesia, Nita Bhalla di Nairobi dan Thin Lei Win di Rome; ditulis oleh Michael Taylor; disunting oleh Megan Rowling. Dalam mengutip harap cantumkan Thomson Reuters Foundation, divisi nirlaba Thomson Reuters yang mengangkat kehidupan orang-orang di berbagai penjuru dunia yang berjuang untuk hidup bebas dan adil. Kunjungi kami di http://news.trust.org)

Standard Kami: The Thomson Reuters Trust Principles.

Our Standards: The Thomson Reuters Trust Principles.