Bantuan tunai untuk masyarakat miskin pedesaan turut selamatkan hutan

by Michael Taylor | @MickSTaylor | Thomson Reuters Foundation
Friday, 12 June 2020 18:00 GMT

Warga desa di Sumba menyemai benih kacang tanah di ladang di desa Hamba Praing, kecamatan Kanatang, Kabupaten Sumba Timur, NTT, 23 Februari, 2020. REUTERS/Willy Kurniawan

Image Caption and Rights Information

Penelitian mengungkap bahwa bantuan tunai untuk mengurangi kemiskinan di pedesaan menyumbang 30% penurunan angka deforestasi.

Oleh Michael Taylor

KUALA LUMPUR, 12 Juni (Thomson Reuters Foundation) – Skema jaminan sosial untuk mengurangi beban masyarakat miskin pedesaan melalui bantuan tunai ternyata juga membantu menurunkan angka deforestasi sebesar 30%, ungkap para peneliti Jumat lalu. Temuan ini memberikan harapan bahwa upaya penanganan kemiskinan dan perlindungan hutan dapat berjalan beriringan.

Penelitian tersebut menganalisis program nasional penanggulangan kemiskinan melalui pemberian dana tunai kepada rumah tangga miskin yang mematuhi panduan kesehatan dan pendidikan, dengan mengamati sekitar 7.500 desa dekat hutan yang menerima bantuan tersebut antara 2008 hingga 2012.

“Dilihat dari sudut mana pun, program penanggulangan kemiskinan rata-rata berujung pada penurunan penebangan hutan di desa penerima bantuan,” tutur Paul Ferraro, salah satu penulis hasil riset tersebut yang juga dosen perilaku manusia dan kebijakan publik di Universitas Johns Hopkins, Amerika Serikat.

Menurut Bank Dunia, selama dua dekade terakhir Indonesia berhasil memangkas lebih dari separuh angka kemiskinan menjadi kurang dari 10% dari 260 juta penduduk pada 2019.

Indonesia adalah negara dengan hutan tropis ketiga terbesar di dunia, tetapi juga merupakan produsen minyak sawit terbesar. Industri ini mempekerjakan jutaan orang, namun juga dituduh para aktivis lingkungan sebagai dalang musnahnya hutan dan kebakaran lahan. 

Indonesia, yang memiliki populasi keempat terbesar di dunia, disebut sebagai salah satu dari tiga negara dengan kerusakan hutan hujan terparah pada 2019, menurut data yang diterbitkan bulan ini oleh layanan pengawasan hutan berbasis satelit Global Forest Watch.

Penelitian terbaru di Indonesia, yang diterbitkan dalam jurnal Science Advances, mengkaji data hilangnya tutupan hutan di desa-desa dekat hutan sebelum dan sesudah dijalankannya program kesejahteraan.

Skema bantuan tunai untuk penanggulangan kemiskinan menjadi makin populer di negara berkembang dan telah diterapkan di 16 negara di kawasan tropis, tutur Ferraro.

Program tersebut, yang masih diperluas penerapannya di pelosok Indonesia, mengucurkan bantuan tunai setiap tiga bulan dalam jumlah “tidak besar”—setara sekitar 15-20% konsumsi rumah tangga penerima bantuan, dia menambahkan.

Sebanyak 266.533 rumah tangga penerima bantuan yang diamati dalam penelitian tersebut terletak di 15 provinsi. Di dalam provinsi-provinsi tersebut tersebar sekitar setengah tutupan hutan di Indonesia, sekaligus wilayah terjadinya 80% kerusakan hutan.

Para peneliti menemukan bahwa petani di desa-desa yang diamati umumnya menebang pohon di hutan untuk membuka lahan agar dapat menanam lebih banyak. Terutama jika panen diperkirakan akan turun akibat musim hujan yang tak kunjung datang atau musim kering berkepanjangan.

Tetapi ketika diberi bantuan tunai, para petani ini memilih untuk membeli kebutuhan pokok di pasar dan tidak lagi membuka lahan, atau mengajukan pinjaman dengan bantuan pemerintah sebagai jaminannya, Ferraro menjelaskan.

Sebelum penerapannya diperluas di seluruh dunia, Ferraro mendesak diadakannya penelitian lebih lanjut tentang manfaat skema bantuan tunai terhadap lingkungan.

Ferraro mencatat bahwa penelitian terpisah dengan metode berbeda di Meksiko menemukan sedikit peningkatan angka deforestasi karena penduduk menggunakan dana tunai untuk membeli hewan ternak tambahan. Akibatnya, para petani tersebut justru menebang hutan untuk dijadikan padang penggembalaan.

“Kita tidak akan bisa menyelesaikan masalah hutan hujan dengan program bantuan tunai bersyarat,” katanya. Tetapi “program tersebut memberi ruang bagi dua kelompok—baik yang anti-kemiskinan maupun pro-lingkungan—untuk bisa lebih bekerja sama.”

 

Artikel terkait:

No let-up in global rainforest loss as coronavirus brings new danger

Lost giants: Logging and climate shifts slash forest carbon storage

Jailing of farmer who cut 20 trees spotlights Indonesia land conflicts

 

(Liputan oleh Michael Taylor @MickSTaylor; disunting oleh Megan Rowling. Dalam mengutip harap sebutkan Thomson Reuters Foundation, divisi nirlaba Thomson Reuters, yang mengangkat kehidupan orang-orang di berbagai penjuru dunia yang berjuang untuk hidup bebas dan adil. Kunjungi kami di: http://news.trust.org)

 

Standar Kami: The Thomson Reuters Trust Principles.

Our Standards: The Thomson Reuters Trust Principles.