Rainforest Alliance siap bantu perkebunan taat etika lebih cerdas siasati perubahan iklim

by Michael Taylor | @MickSTaylor | Thomson Reuters Foundation
Wednesday, 1 July 2020 16:29 GMT

Skema sertifikasi terbaru untuk lebih dari 2 juta petani akan dilengkapi teknologi untuk membantu adaptasi perubahan iklim, melindungi hutan dan mengidentifikasi risiko-risiko sosial.

Oleh Michael Taylor

 

KUALA LUMPUR, 1 Juli (Thomson Reuters Foundation) – Kelompok lingkungan Rainforest Alliance akan memperkokoh skema sertifikasi pangannya untuk memastikan petani dan pemegang merek lebih mahir menggunakan teknologi dalam merespon perubahan iklim, menghormati hak asasi manusia dan berinvestasi dalam pertanian berkelanjutan.

Lembaga sertifikasi internasional Rainforest Alliance dan UTZ melakukan merger pada 2018 dan telah menerbitkan label produk pertanian etis untuk komoditas kopi, kakao dan pisang, seiring meningkatnya permintaan konsumen.

“Sertifikasi pertanian berkelanjutan telah berubah drastis dalam lima hingga sepuluh tahun terakhir, tantangan yang dihadapi sekarang jauh lebih besar,” tutur Ruth Rennie, direktur standar dan kendali mutu lembaga nirlaba Rainforest Alliance yang berbasis di Amerika Serikat.

“Perubahan iklim mendorong datangnya tantangan-tantangan baru sepanjang waktu. Kesenjangan sosial terus meningkat di dunia. Kita harus terus mengawasi hal-hal tersebut," tutur Rennie pada Thomson Reuters Foundation.

Untuk beradaptasi dengan perubahan iklim, petani tersertifikasi perlu mengukur risiko yang mereka hadapi, menyiapkan langkah penanggulangan kedaruratan untuk menangani banjir dan kekeringan, serta memperhitungkan ketahanan terhadap iklim dalam pemilihan tanaman, Rennie menambahkan.

Kini, konsumen menuntut lebih banyak informasi tentang asal muasal produk yang mereka beli, dengan harapan bahwa para pemegang merek dapat menunjukkan dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat, imbuhnya.

Ada lebih dari 2 juta petani di dunia saat ini yang menggunakan skema sertifikasi Alliance untuk memberikan jaminan kepada konsumen bahwa komoditas mereka tidak terkait deforestasi dan dapat dirunut dari kebun ke pembeli.

Produsen juga harus menerapkan praktik pertanian dan pengelolaan air yang baik, serta memiliki sistem untuk menangani isu seperti pekerja anak, kerja paksa dan hak-hak pekerja.

Lebih dari 5.000 pembeli dan perusahaan memperoleh bahan-bahan melaui skema ini, termasuk Nestle, Unilever, Hershey Co, Walmart, Dole dan Chiquita. 

Standar yang telah direvisi—yang akan menggantikan skema yang ada sekarang dan ditandai dengan segel Alliance yang bergambar kodok hijau—dikembangkan selama dua tahun melalui konsultasi dengan lebih dari 1.000 orang di 50 negara.

Skema ini akan beralih dari sistem “lulus atau tidak lulus” berdasarkan penilaian auditor, ke model “perubahan berkelanjutan” yang mengidentifikasi dan menanggapi risiko yang akan datang, tutur Rennie.

Peserta skema ini harus mematuhi kriteria yang lebih ketat dalam hal perlindungan hutan dan isu-isu sosial, seraya tetap menentukan di mana risiko perubahan iklim dan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) berpotensi muncul dalam rantai pasok dan menyusun rencana penanganan, dia menambahkan.

Penggunaan teknologi dan data yang lebih baik adalah bagian penting dalam skema terbaru ini, di mana peserta diharapkan menggunakan alat-alat monitor untuk mengidentifikasi risiko seperti deforestasi sesegera mungkin, lanjutnya.

Program baru ini juga akan memperkenalkan kewajiban membayar premi atau investasi untuk mendukung upaya pelestarian yang dilakukan produsen pangan.

“Kita tidak bisa hanya mengharapkan petani membayar sendiri biaya sertifikasi, tanpa imbalan konkret,” tutur Rennie.

Tahun lalu The Washington Post melaporkan bahwa UTZ mendapati perkebunan penerima sertifikasi di negara produsen kakao terbesar Pantai Gading lebih cenderung mempekerjakan buruh anak dibandingkan perkebunan yang tidak tersertifikasi. Banyak di antara perkebunan tersebut juga berada di kawasan hutan lindung. Petani-petani tersebut kemudian dicabut sertifikatnya. 

Pendaftaran untuk sertifikasi standar baru akan dimulai Januari tahun depan, sementara persyaratan baru akan mulai berlaku pada Juli 2021.

Darrell High, kepala perencanaan produk kakao di Nestle, yang baru-baru ini membeli kakao untuk permen cokelat KitKat dan camilan lain dari produsen yang tergabung dalam Rainforest Alliance, menyambut baik penekanan pada “perbaikan berkelanjutan.”

“Kami yakin standar baru ini akan dapat membantu menciptakan dampak positif yang lebih besar bagi petani dan masyarakat sekitarnya secara bertahap,” ungkap High dalam sebuah pernyataan. 

 

(Liputan oleh Michael Taylor @MickSTaylor; disunting oleh Megan Rowling. Dalam mengutip harap sebutkan Thomson Reuters Foundation, divisi nirlaba Thomson Reuters, yang mengangkat kehidupan orang-orang di berbagai penjuru dunia yang berjuang untuk hidup bebas dan adil. Kunjungi kami di: http://news.trust.org)

 

Standar Kami: The Thomson Reuters Trust Principles.

Our Standards: The Thomson Reuters Trust Principles.