Hutan hujan alami pengrusakan ‘tanpa henti’ selama 2020, namun harapan muncul di Asia Tenggara

by Michael Taylor | @MickSTaylor | Thomson Reuters Foundation
Wednesday, 31 March 2021 04:01 GMT

Yudi Oktama, seorang relawan pemadam kebakaran, melakukan patroli di atas truk Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) saat memadamkan kebakaran hutan di Kabupaten Pulang Pisau, Palangkaraya, Kalimantan Tengah, 13 September, 2019. REUTERS/Willy Kurniawan

Image Caption and Rights Information

* Kerusakan hutan primer pada 2020 melonjak sekitar 12 persen dibandingkan 2019

* Penebangan hutan berdampak serius pada target-target penanggulangan perubahan iklim

* Brasil mencatat angka deforestasi tertinggi, sementara Indonesia dan Malaysia menunjukkan perbaikan

Oleh Michael Taylor

KUALA LUMPUR, 31 Maret (Thomson Reuters Foundation) – Kerusakan hutan tropis tahun lalu tercatat sebagai yang ketiga tertinggi dalam hampir dua dekade terakhir. Meskipun upaya konservasi terus diperbaiki di berbagai kawasan di Asia Tenggara, para peneliti Rabu lalu mengingatkan meningkatnya risiko deforestasi ketika pemerintah di berbagai negara kembali menggerakkan ekonomi yang terdampak pandemi.

Hutan primer—kawasan hutan perawan yang terdiri atas pepohonan tua—mengalami kerusakan sebesar 4,2 juta hektar pada 2020 atau setara luas Belanda, menurut data Global Forest Watch (GFW) dan University of Maryland.

“2020 seharusnya menjadi tonggak komitmen internasional… tetapi kami malah melihat berbagai hal bergerak ke arah sebaliknya,” tutur Mikaela Weisse, manajer proyek pengawasan hutan GFW, layanan yang dikelola lembaga kajian World Resources Institute (WRI) yang berbasis di Washington.

Kelompok produsen merek-merek barang rumah tangga gagal mencapai target 2020 sebagai tahun di mana mereka hanya akan membeli komoditas yang diproduksi secara berkelanjutan. Selain itu, target lainnya untuk memangkas setidaknya separuh kerusakan hutan alam juga tidak tercapai, meski didukung lebih dari 200 negara, perusahaan dan kelompok lingkungan.

Laju deforestasi yang bertubi-tubi alias “tanpa henti” di kawasan tropis “jelas membuat kami khawatir,” kata Weisse kepada Thomson Reuters Foundation.

Penebangan hutan menimbulkan dampak serius pada target-target global untuk menekan perubahan iklim. Hal ini karena pepohonan menyerap sekitar sepertiga emisi karbon dunia yang berpotensi menaikkan suhu bumi.

Hutan juga merupakan sumber pangan dan nafkah bagi masyarakat yang tinggal di dalam atau sekitarnya, di samping juga merupakan habitat penting bagi satwa liar dan membantu curah hujan tropis.

WRI mengatakan kerusakan hutan primer, yang mencatat angka tertinggi pada 2016 dan 2017, naik sekitar 12 persen pada 2020 dibandingkan 2019.

Kerusakan ini mengakibatkan lepasnya karbon setara dengan emisi 570 juta mobil, lebih dari dua kali lipat jumlah kendaraan bermotor di Amerika Serikat (AS).

Ekspansi pertanian, kebakaran, pembalakan, pertambangan dan meningkatnya populasi mendorong terjadinya deforestasi, tutur para peneliti.

Pada 2020, penegakan hukum yang lemah akibat pembatasan pergerakan COVID-19, pemangkasan anggaran perlindungan hutan dan perpindahan massal dari kota ke desa diperkirakan memperburuk deforestasi.

Meski demikian, Weisse mengatakan sulit untuk mengidentifikasi pengaruh yang ditimbulkan pandemi.

Namun, seiring rencana berbagai negara untuk menggerakkan kembali ekonomi setelah krisis COVID-19, pemerintah bisa saja memberlakukan kebijakan baru yang tidak ramah hutan, lanjut Weisse. Dia menyebut Undang-undang Cipta Kerja yang disahkan akhir 2020 lalu sebagai contoh.

“Inilah yang nantinya akan menimbulkan dampak jangka panjang, bukan periode penutupan pendek seperti yang kita lihat sekarang,” dia menambahkan.

 

INDONESIA, MALAYSIA ALAMI PERBAIKAN

Peneliti WRI mengungkapkan bahwa tiga besar negara dengan kerusakan hutan primer terbesar adalah Brasil, Republik Demokratik Congo (RDC) dan Bolivia.

Brasil kembali memuncaki daftar tahunan negara dengan kerusakan hutan primer terbesar dengan total 1,7 juta hektar pada 2020. Angka ini lebih dari tiga kali lipat kerusakan yang terjadi di DRC, dan menunjukkan peningkatan sebesar 25 persen dibandingkan 2019, tutur para peneliti tersebut.

Weisse menuding kebakaran sebagai penyebab utama kerusakan di Brasil dan mencatat bahwa anggaran lembaga penegakan hukum kehutanan federal mengalami penurunan pada 2021.

Negara tetangga Brasil, Bolivia, naik ke posisi ketiga dengan kerusakan hutan hampir 276.900 hektar, sebagian besar akibat kebakaran. Seperti di Brasil, kebanyakan kebakaran kemungkinan disebabkan pembukaan lahan yang tidak terkendali akibat kekeringan dan cuaca panas.

Sementara itu, di Kolombia, yang menduduki posisi keenam, kerusakan hutan primer selama 2020 naik hingga hampir 166.500 hektar setelah sempat turun pada 2019.

“Banyak terjadi perebutan lahan,” Weisse menuturkan.

RDC yang berada di posisi kedua kehilangan 490.000 hektar hutan primer selama 2020. Seperti tahun-tahun sebelumnya, sebagian besar kerusakan diakibatkan ekspansi pertanian skala kecil dan kebutuhan kayu bakar, termasuk produksi arang.

Indonesia yang memiliki hutan tropis terluas ketiga di dunia, sekaligus penghasil kelapa sawit terbesar, turun dari posisi ketiga ke posisi keempat dengan kerusakan hutan sedikit di atas 270.000 hektar. Ini menandai tahun keempat tercatatnya penurunan angka kerusakan hutan secara berturut-turut.

Penurunan ini disebabkan kebijakan pemerintah termasuk moratorium pembukaan hutan primer dan pembekuan perizinan perkebunan kelapa sawit, perbaikan penegakan hukum dan hak atas tanah, serta penggunaan teknologi untuk menanggulangi kebakaran hutan, ungkap Arief Wijaya, manajer kehutanan senior WRI Indonesia.

Angka tahunan kerusakan hutan juga mengalami penurunan untuk keempat kalinya di negara tetangga Malaysia yang berada di posisi kesembilan dengan jumlah hampir 73.000 hektar.

Malaysia, yang telah kehilangan hampir seperlima hutan primer sejak 2001, menetapkan batas atas jumlah perkebunan kelapa sawit yang berlaku selama lima tahun sejak 2019. Negara tersebut juga berencana memperkuat undang-undang kehutanannya dengan menaikkan denda dan hukuman penjara untuk pembalakan liar.

Meski demikian, tren penurunan di Indonesia dan Malaysia tidak terjadi di negara Asia Tenggara lainnya. Kamboja, Laos dan Myanmar menunjukkan angka deforestasi yang sama atau lebih tinggi.

“Kami melihat penurunan signifikan di Indonesia dan Malaysia yang tidak terjadi di kawasan lain di dunia,” kata Weisse.

 

Artikel terkait:

Pandemic likely made 2020 'another devastating year' for world's forests 

Megaprojects flagged as Trojan horse to develop remaining rainforests 

Treetop sensors help Indonesia eavesdrop on forests to curb illegal logging 

 

(Liputan oleh Michael Taylor @MickSTaylor; disunting oleh Megan Rowling. Dalam mengutip harap sebutkan Thomson Reuters Foundation, divisi nirlaba Thomson Reuters, yang mengangkat kehidupan orang-orang di berbagai penjuru dunia, yang berjuang untuk hidup bebas dan adil. Kunjungi kami di: http://news.trust.org)

Our Standards: The Thomson Reuters Trust Principles.